Belajar dari Karya Fiksi Spekulatif untuk Menghadapi Krisis Nyata
Membaca fiksi spekulatif ternyata melatih otak menghadapi krisis nyata lewat pertanyaan sederhana, "bagaimana jika".
Sekarang ini, kehadiran AI membuat banyak mahasiswa cenderung lebih jarang membaca dan kurang berpikir panjang. Di tengah masalah itu, ada usul menarik dari dunia sastra, yaitu memakai fiksi spekulatif untuk melatih orang menghadapi krisis. Usul ini disampaikan Foong Soon Seng, Ph.D., pengajar dari Universiti Malaya, dalam sebuah sesi konferensi tentang sastra dan komunikasi.
Menurut Foong, fiksi spekulatif bukan sekadar bacaan hiburan. Secara sederhana, fiksi spekulatif adalah cerita yang menggambarkan dunia berbeda dari kenyataan yang kita tahu sekarang, entah itu masa depan, dunia paralel, atau situasi yang belum pernah terjadi. Genre ini mencakup beberapa jenis cerita yang mungkin sudah familiar. Ada fiksi ilmiah (science fiction), yaitu cerita yang dibangun dari teknologi atau ilmu pengetahuan yang belum ada di dunia nyata. Ada juga distopia, yaitu dunia rekaan yang digambarkan buruk, kacau, atau menindas. Contoh paling terkenal adalah novel Nineteen Eighty-Four karya George Orwell, yang menggambarkan pemerintahan yang mengawasi dan mengontrol seluruh hidup warganya. Kebalikannya adalah utopia, yaitu dunia rekaan yang digambarkan ideal atau lebih baik daripada dunia nyata. Ada pula fiksi iklim (climate fiction), cerita yang berangkat dari isu perubahan iklim dan kerusakan lingkungan.
Semua jenis cerita ini memiliki satu ciri khas yang sama, yaitu mengajak pembaca membayangkan skenario "bagaimana jika". Bagaimana jika dunia tanpa laki-laki? Bagaimana jika besok tiba-tiba ada serangan zombi? Pertanyaan seperti ini bukan sekadar imajinasi liar. Menurut Foong, ini justru latihan berpikir untuk menghadapi hal-hal yang tidak terduga.
Kenapa Genre Ini Makin Populer Sekarang
Foong menjelaskan bahwa fiksi spekulatif makin banyak dilirik orang setelah pandemi COVID-19. Hal ini wajar terjadi karena orang-orang baru saja mengalami sendiri bagaimana dunia bisa berubah drastis dalam waktu singkat, sehingga mereka menjadi lebih terbuka membayangkan dunia-dunia lain yang berbeda dari kenyataan. Tren ini juga terasa di Indonesia dan Malaysia, terutama lewat kritik ekologis atau ecocriticism, yaitu sebuah pendekatan dalam membaca karya sastra yang berfokus melihat bagaimana manusia digambarkan berhubungan dengan alam, dan bagaimana kerusakan lingkungan tercermin dalam cerita.
Fiksi iklim menjadi contoh paling nyata. Foong mengaitkannya dengan istilah Antroposen (Anthropocene). Istilah ini pertama kali dipakai oleh dua ilmuwan, Crutzen dan Stoermer, pada tahun 2000, untuk menyebut zaman geologi yang kita tinggali sekarang. Sebelumnya, para ahli geologi menyebut zaman kita sebagai Holosen. Namun, karena aktivitas manusia sudah begitu besar dampaknya sampai mengubah bumi secara permanen, sebagian ilmuwan mengusulkan nama baru, yaitu Antroposen, atau "zaman manusia". Naiknya suhu global, punahnya banyak spesies, sampai naiknya permukaan laut, semua ini oleh Foong dianggap bagian dari "krisis" yang bisa dipelajari lewat karya sastra, bahkan sebelum benar-benar terjadi di dunia nyata.
Sastra dan Komunikasi Krisis, Apa Hubungannya?
Bagian paling menarik dari paparan Foong adalah bagaimana ia menghubungkan fiksi spekulatif dengan pendidikan komunikasi, khususnya untuk mahasiswa jurusan hubungan masyarakat (PR). Caranya sederhana. Cerita spekulatif dipakai sebagai studi kasus, dan mahasiswa diminta menganalisis situasi krisis yang ada di dalam cerita fiksi tersebut. Dari situ, mereka belajar melihat bagaimana institusi atau organisasi biasanya mengendalikan cerita kepada publik saat krisis terjadi.
Hal ini penting karena di dunia nyata, krisis juga sering datang tiba-tiba dan penuh ketidakpastian, persis seperti dunia-dunia fiktif yang digambarkan dalam novel spekulatif. Semakin sering mahasiswa dilatih menghadapi skenario "bagaimana jika" semacam ini, semakin siap mereka merespons cepat begitu benar-benar terjun ke masyarakat.
Foong juga bercerita tentang pengalamannya mengajar dua karya sastra di kelasnya. Karya pertama adalah The Emissarykarya Yoko Tawada, penulis asal Jepang, yang menurut Foong membahas dunia setelah krisis Antroposen. Karya kedua adalah Herland karya Charlotte Perkins Gilman, novel yang menggambarkan sebuah negeri yang dihuni hanya oleh perempuan, tanpa laki-laki sama sekali, dengan alur cerita yang berpusat pada tiga laki-laki yang memasuki negeri tersebut. Menurut Foong, mahasiswa justru antusias saat kedua teks ini didiskusikan dalam konteks isu sosial yang lebih luas, bukan sekadar dibedah sebagai karya sastra semata.
Masalah Baru: AI Membuat Mahasiswa Berhenti Berpikir Sendiri
Ada satu hal yang menurut Foong cukup mengkhawatirkan. Mahasiswa sekarang cenderung lebih memilih jawaban instan lewat AI, dibandingkan membaca dan memahami sendiri. Akibatnya, ketika diminta menjelaskan ulang apa yang mereka baca, banyak yang kebingungan. Alasannya sederhana, mereka sebenarnya tidak benar-benar memahami isinya, hanya menyalin jawaban instan dari AI.
Menurut Foong, masalah ini justru memperkuat alasan mengapa fiksi spekulatif perlu dipakai di kelas komunikasi. Latihan berpikir lewat skenario hipotetis memaksa mahasiswa untuk mengecek dan menilai sendiri informasi yang mereka dapatkan. Kemampuan semacam ini makin langka di zaman serba instan seperti sekarang.
Makna di Balik Dunia yang Belum Ada
Ada satu benang merah yang menarik dari seluruh gagasan Foong. Fiksi bukan pelarian dari kenyataan, melainkan cara lain untuk mendekatinya. Saat seseorang membayangkan dunia tanpa laki-laki, dunia setelah bencana ekologis, atau dunia yang tiba-tiba diserang zombi, yang sebenarnya sedang dilatih bukan kemampuan berimajinasi semata, melainkan kemampuan untuk berdiri di titik yang belum pernah dipijak dan tetap berpikir jernih di sana.
Kalau ditarik ke keseharian, latihan semacam ini sebenarnya sudah sangat dibutuhkan. Belakangan ini, banyak orang tiba-tiba dihadapkan pada situasi yang sebelumnya tidak pernah mereka bayangkan, mulai dari banjir dan cuaca ekstrem yang datang di luar musim biasanya, sampai gelombang informasi dari AI yang membuat orang harus buru-buru menilai mana yang benar dan mana yang sekadar terdengar meyakinkan. Semua situasi ini memiliki kemiripan dengan apa yang ditawarkan fiksi spekulatif, yaitu keadaan tanpa peta yang lengkap dan tanpa jawaban yang sudah pasti, yang menuntut orang berpikir cepat sekaligus tetap jernih.
Bedanya, di dunia fiksi, ruang semacam itu aman untuk dicoba berulang kali sebelum benar-benar dihadapi. Dari situ, "bagaimana jika" bukan sekadar pertanyaan pembuka cerita, tetapi juga cara berpikir yang terus dibawa keluar dari halaman buku, ke ruang kelas, ke percakapan sehari-hari, bahkan ke cara seseorang menyaring informasi yang berseliweran setiap hari di lini masa mereka.
Pada akhirnya, apa yang ditawarkan Foong bukan resep siap pakai untuk menghadapi krisis, melainkan cara melatih diri agar tetap berpikir saat dunia berubah lebih cepat daripada yang bisa dipahami.
Liputan ini disarikan dari presentasi Foong Soon Seng, Ph.D. (Universiti Malaya) dalam MEDIACON 2026, International Conference bertajuk "Hope or Hype? Media Democratization and Resilience in Times of Crisis", yang diselenggarakan oleh Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia bersama Petra Christian University pada 5–7 Agustus 2026 di Kampus UI Depok.
(fat/red)
Menikmati pembacaan ini?
Dapatkan analisis mendalam dan ulasan budaya berikutnya langsung di kotak masuk Anda setiap Jumat sore.
Ditulis oleh
Admin Redaksi
Kisar Wacana
Redaksi Kisar Wacana