Langsung ke konten utama
Wacana

Cara Novel Diam-Diam Melatih Kita Mendeteksi Kebohongan

Novel klasik seperti Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck dan Pride and Prejudice ternyata bisa melatih kita mengenali kebohongan dalam kehidupan sehari-hari.

Admin Redaksi Admin Redaksi · · 5 menit baca
Cara Novel Diam-Diam Melatih Kita Mendeteksi Kebohongan
Ilustrasi: Dokumentasi Kisar Wacana

"Aku baik-baik saja." Kalimat sependek itu bisa berarti apa saja, benar-benar baik, atau justru tanda seseorang sedang menyembunyikan sesuatu yang berat. Kita sering tidak tahu yang mana, padahal salah menebak bisa berakibat fatal, termasuk gagal menyadari seseorang sedang butuh pertolongan sebelum semuanya terlambat. Assoc. Prof. Dr. Kamisah Ariffin dari Academy of Language Studies, Universiti Teknologi MARA Malaysia punya jawaban yang tidak terduga soal ini, jawabannya ada di novel-novel yang selama ini mungkin cuma dianggap bacaan hiburan.

Dalam kuliah tamu di Departemen Sastra Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, Kamisah menegaskan sejak awal bahwa yang ia bahas bukan cara menangkap penjahat atau pembohong. Ini soal kemampuan yang jauh lebih dasar, membaca apa yang tidak terucap dari orang-orang di sekitar kita.

Sastra Bukan Soal Menghafal Plot

Kamisah membuka dengan pertanyaan sederhana, kenapa kita repot-repot belajar sastra, menganalisis plot, tokoh, dan metafora. Jawabannya, menurutnya, karena sastra sebenarnya laboratorium untuk memahami perilaku manusia. Saat membaca novel, otak kita berlatih menyimulasikan dunia luar lewat tokoh-tokoh fiksi, dan pelan-pelan kita jadi lebih peka membaca hal yang tidak dikatakan secara langsung oleh orang sungguhan.

Ia memakai perumpamaan gunung es untuk menjelaskan ini. Kata-kata yang kita dengar hanya puncak yang terlihat di permukaan, sementara harapan, ketakutan, dan luka seseorang tersembunyi jauh lebih besar di bawahnya. Seperti kapal Titanic yang tenggelam bukan karena puncak gunung es yang tampak, melainkan bagian bawahnya yang jauh lebih besar dan tidak terlihat, kita juga sering celaka justru karena hanya menangkap kata-kata di permukaan dan mengabaikan apa yang tersembunyi di baliknya.

Beberapa Cara Orang Berbohong Tanpa Terasa Berbohong

Menurut Kamisah, kebohongan tidak selalu berbentuk kalimat yang jelas salah. Ia membagikan beberapa pola yang sering luput dari perhatian.

Penyangkalan yang terlalu panjang justru lebih mencurigakan daripada jawaban singkat, karena orang yang benar-benar jujur biasanya tidak perlu berpanjang lebar meyakinkan orang lain. Sikap defensif, seperti membalas pertanyaan dengan pertanyaan lain, juga sering jadi tanda ada sesuatu yang sedang dihindari. Diam pun bisa jadi bentuk kebohongan, begitu juga kebiasaan mengalihkan topik begitu ditanya sesuatu yang tidak nyaman. Bahasa tubuh yang tidak sejalan dengan kata-kata, misalnya menjawab sambil menghindari tatapan mata atau sambil menatap layar ponsel, juga layak dicurigai. Uniknya, terlalu banyak menjelaskan pun bisa jadi tanda kebohongan, seolah seseorang berusaha terlalu keras meyakinkan lawan bicaranya.

Dua Novel, Dua Cara Menyembunyikan Kebenaran

Kamisah membawa dua contoh novel untuk menunjukkan bagaimana kebohongan bekerja dalam bentuk yang lebih halus, yaitu menyembunyikan perasaan, bukan sekadar mengucapkan hal yang salah.

Contoh pertama datang dari novel klasik Indonesia, Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck karya Hamka. Saat mengetahui Hayati menikah dengan pria lain, Zainuddin menulis surat yang isinya jauh dari perasaannya yang sebenarnya, ia menulis bahwa tidak ada kekecewaan sama sekali dan mendoakan kebahagiaan Hayati. Kamisah bertanya kepada audiens, apakah Zainuddin jujur di surat itu. Jawabannya tentu tidak, karena siapa pun yang baru saja kehilangan orang yang dicintai mustahil sedatar itu. Ini yang disebut Kamisah sebagai concealment, menyembunyikan perasaan yang sebenarnya di balik kata-kata yang terdengar tenang dan ikhlas.

Contoh kedua dari Pride and Prejudice karya Jane Austen. Elizabeth Bennet percaya begitu saja pada cerita Mr. Wickham soal betapa buruknya perlakuan Mr. Darcy padanya, karena Wickham bercerita dengan tenang, detail, dan meyakinkan, sementara Darcy justru terkesan dingin dan sulit didekati. Elizabeth baru sadar ia salah menilai setelah membaca sisi cerita yang selama ini tidak pernah ia dengar. Menurut Kamisah, ini pelajaran penting, cerita yang meyakinkan dan disampaikan dengan penuh percaya diri bukan jaminan cerita itu benar, apalagi kalau kita cuma mendengar dari satu sisi.

Dari Novel ke Iklan, Chat, dan Ruang Wawancara Beasiswa

Kamisah menunjukkan bahwa pola yang sama berlaku jauh di luar halaman novel. Slogan iklan seperti "nomor satu di Indonesia" atau "terbukti secara klinis" bisa jadi kebohongan terselubung kalau kita tidak bertanya, nomor satu berdasarkan apa, terbukti oleh siapa. Pesan singkat "aku otw" dari seseorang yang bahkan belum keluar rumah adalah bentuk kebohongan lewat asumsi yang dibiarkan begitu saja. Bahkan jawaban wawancara beasiswa yang terlalu rapi dan penuh kata-kata mengesankan, tanpa bukti konkret, menurut Kamisah lebih sering terdengar seperti hafalan daripada kejujuran.

Ia juga menyinggung komunikasi rumah tangga, saat suami menjawab "baik-baik saja" tanpa nada yang meyakinkan, istri biasanya tahu ada yang tidak beres, karena yang dicari bukan sekadar kata, tapi juga perasaan di baliknya. Pola serupa berlaku pada pernyataan pejabat publik yang penuh kata "berkomitmen" dan "terus berupaya" tanpa pernah menyebut kapan dan bagaimana janji itu akan ditepati. Kamisah pun menegaskan, AI seperti ChatGPT tidak bisa diandalkan mendeteksi kebohongan semacam ini, karena AI hanya mengenali pola dari data, bukan membaca emosi dan konteks seperti yang dilatih lewat membaca sastra.

Kenapa Latihan Ini Layak Dibawa ke Luar Ruang Kelas

Yang menarik dari kuliah Kamisah bukan cuma daftar tanda-tanda kebohongan, tapi kesadaran bahwa kita semua sebenarnya terus-menerus menerjemahkan kata orang lain setiap hari, dari pesan singkat pasangan, cerita teman soal orang lain, sampai iklan yang muncul di linimasa. Bedanya, tidak semua orang sempat berlatih memperhatikan detail yang biasanya luput itu.

Membaca novel, dalam kerangka yang ditawarkan Kamisah, bukan sekadar hiburan atau kewajiban di bangku kuliah, melainkan latihan diam-diam untuk hal yang jauh lebih penting, belajar tidak langsung percaya pada apa yang terdengar meyakinkan, dan belajar bertanya apa yang sebenarnya sedang tidak dikatakan seseorang. Kemampuan itu yang, cepat atau lambat, dibutuhkan semua orang, bukan cuma mahasiswa sastra.

---

Artikel ini disarikan dari kuliah tamu "How Novels Train You to Be a Human Lie Detector" oleh Assoc. Prof. Dr. Kamisah Ariffin (Academy of Language Studies, Universiti Teknologi MARA, Malaysia), diselenggarakan Departemen Sastra, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia, pada Kamis, 27 Agustus 2026.

Surat Redaksi

Menikmati pembacaan ini?

Dapatkan analisis mendalam dan ulasan budaya berikutnya langsung di kotak masuk Anda setiap Jumat sore.

Admin Redaksi

Ditulis oleh

Admin Redaksi

Kisar Wacana

Redaksi Kisar Wacana

Artikel Terkait