Langsung ke konten utama
Wacana

Ruang Bebas yang Selalu Direbut Kembali

Sejarah media Indonesia, dari pers pergerakan sampai media sosial, selalu berulang, ruang bicara terbuka, lalu ditutup lagi oleh kekuasaan.

Admin Redaksi Admin Redaksi · · 6 menit baca
Ruang Bebas yang Selalu Direbut Kembali
Ilustrasi: Dokumentasi Kisar Wacana

Media sosial pernah terasa seperti angin segar, tiba-tiba semua orang bisa bicara, orang biasa bisa viral, suara yang dulu tidak pernah didengar kini bisa sampai ke banyak orang sekaligus. Tapi tidak lama, harapan itu biasanya diikuti kekecewaan, akun ditutup, unggahan dihapus algoritma, ruang yang tadinya terasa bebas perlahan menyempit lagi. Pola inilah yang jadi titik tolak Prof. Inaya Rakhmani, PhD dari Universitas Indonesia, dalam presentasinya yang menelusuri sejarah media Indonesia lebih dari satu abad ke belakang.

Menurut Inaya, pola melebar lalu menyempit ini bukan kebetulan atau keunikan zaman sekarang saja. Sejak pers pergerakan sebelum kemerdekaan, radio revolusi, media bawah tanah zaman Orde Baru, deregulasi media pasca Reformasi, sampai gerakan lewat platform digital hari ini, semuanya mengulang pola yang sama, ruang bicara terbuka, lalu ditutup atau diorganisasi ulang oleh kekuatan yang sudah mapan. Yang berulang bukan berarti persis sama setiap kali, tapi cukup konsisten untuk dilihat sebagai pola, bukan kebetulan belaka.

Kenapa Sebuah Momen Bisa Tiba-Tiba Membuka Ruang

Untuk menjelaskan kenapa keterbukaan bisa muncul di satu momen tapi tidak di momen lain, Inaya memakai kerangka yang disebut conjunctural analysis, dari pemikir Gillian Hart. Sederhananya, sebuah momentum besar terjadi ketika berbagai kekuatan, sosial, politik, ekonomi, sampai relasi antarorang, kebetulan bertemu dan saling mendukung pada waktu yang sama. Momen penculikan Sukarno dan Hatta menjelang proklamasi kemerdekaan, misalnya, terjadi bukan karena satu sebab tunggal, tapi karena berbagai kekuatan pemuda revolusioner, tokoh yang bisa diterima banyak pihak, dan situasi politik saat itu, kebetulan sejalan pada waktu yang tepat.

Tapi momentum semacam itu juga bisa retak dari dalam, misalnya lewat konflik internal gerakan atau perpecahan di antara orang-orang yang tadinya sama-sama dikagumi.

Masa Lalu Tidak Pernah Benar-Benar Hilang

Konsep kedua yang dipakai Inaya adalah sediment, atau endapan. Ia mengibaratkannya seperti pasir yang dibawa ombak, lama-lama mengendap dan menjadi tanah tempat orang berjalan di atasnya. Setiap peristiwa besar meninggalkan endapan semacam ini, dan endapan itu jadi dasar bagi apa yang mungkin terjadi berikutnya. Keluarga yang memenangkan izin siaran televisi pada 1990-an, misalnya, adalah keluarga yang sama yang kini menjalankan kelompok media terbesar di Indonesia. Alasan yang dulu dipakai untuk melarang sebuah majalah demi stabilitas nasional, kini dipakai dengan logika serupa untuk menurunkan akun media sosial.

Itu sebabnya, menurut Inaya, setiap pembukaan ruang baru selalu terasa seperti awal yang benar-benar baru, padahal sebenarnya ia berdiri di atas endapan dari penutupan yang terjadi sebelumnya.

Kampus yang Dipagar dan Ruang yang Diam-Diam Menyempit

Salah satu contoh yang cukup mengejutkan datang dari dunia pendidikan sendiri. Inaya menyinggung perpindahan lokasi Universitas Indonesia dari Salemba ke kampus baru yang berpagar dan bertembok. Ruang fisik yang lebih tertutup itu, menurutnya, ikut mempersempit ruang mahasiswa untuk berdemonstrasi dan bicara bebas. Endapan dari perubahan semacam ini muncul dalam bentuk yang lebih halus, semakin sedikit keberanian bertanya, semakin banyak ketakutan mempertanyakan orang yang punya otoritas, entah itu dosen, senior, atau pembicara di sebuah forum.

Inaya juga menyoroti bagaimana dunia akademik sendiri, lewat rangkaian ujian, seminar, dan proses kenaikan jenjang, bisa berubah dari ruang untuk mempertanyakan kekuasaan menjadi ruang yang justru mereproduksinya.

Dari Radio Revolusi sampai Live Streaming 1998

Sejarah media Indonesia, menurut Inaya, penuh dengan momen ketika teknologi dipakai kelompok muda dengan sumber daya terbatas untuk melawan kekuasaan yang mapan, mulai dari radio dan film pada masa revolusi, sampai siaran langsung RCTI dan SCTV saat pendudukan gedung DPR pada 1998, yang untuk pertama kalinya dalam tiga dekade menampilkan versi peristiwa yang tidak sepenuhnya disetujui negara.

Tapi pola yang sama terus berulang. Setelah 1998, kontrol yang dulu dipegang negara berpindah ke mekanisme pasar. Sempat lahir lebih dari seribu media baru dalam semangat keterbukaan, tapi dalam waktu kurang dari satu dekade, industri media kembali mengerucut jadi belasan kelompok besar saja.

Demonstrasi 2025, Platform Workers, dan Solidaritas yang Ikut Dimonetisasi

Pola serupa juga terlihat di demonstrasi 2025, yang menurut Inaya turut dipicu kematian seorang pengemudi ojek daring yang tertabrak kendaraan taktis polisi, di tengah sorotan publik soal tingginya pendapatan anggota parlemen dan minimnya perlindungan bagi pekerja platform. Solidaritas digital muncul lintas komunitas, termasuk tagar dari penggemar K-pop yang mengirim bantuan makanan dan obat-obatan untuk para pekerja ojek daring.

Namun ruang solidaritas itu juga cepat dibatasi. Pemerintah meminta TikTok menghentikan fitur siaran langsung, sementara di sisi lain perusahaan penyedia layanan justru memanfaatkan momentum solidaritas itu untuk kegiatan publikasi mereka sendiri. Inaya menyebut ini sebagai kontradiksi, teknologi yang sama bisa memperluas ruang demokratis sekaligus membatasinya di saat bersamaan.

Hidup yang Sudah Ditentukan Orang Lain

Di bagian yang paling personal dari presentasinya, Inaya mengajak audiens memandang pola serupa dalam hidup sehari-hari. Ia menyebut banyak orang menjalani apa yang disebutnya sebagai life of docility, hidup yang mengikuti alur yang sudah ditentukan sejak awal, sekolah, lulus, cari kerja tetap, membangun karier, menikah, punya anak, beli rumah, cicilan. Ia mengajak bertanya, kekuatan seperti apa yang sebenarnya mengajarkan kita mengikuti alur ini, dan apakah itu benar-benar pilihan sendiri.

Sebagai lawannya, Inaya menawarkan gagasan practical utopia, dunia yang lebih baik tidak harus dibayangkan sebagai sesuatu yang jauh di masa depan, tapi bisa dipraktikkan sekarang lewat mengganggu keputusan-keputusan kecil yang sebenarnya sudah dibuatkan untuk kita. Harapan semacam ini ia sebut concrete hope, harapan yang berpijak pada kemampuan dan kondisi yang benar-benar ada, dan mengandalkan orang lain untuk melengkapi apa yang tidak bisa dikerjakan sendiri.

Hope dan Hype, Dua Sisi dari Hal yang Sama

Inaya menutup dengan membedakan dua kata yang mirip tapi berbeda arti, hope dan hype. Menurutnya, keduanya sebenarnya bicara soal hal yang sama, yaitu pengorganisasian ulang kekuasaan, hanya dari sisi yang berbeda. Hope adalah bagaimana perubahan itu terasa dari luar, penuh optimisme dan kemungkinan. Hype adalah bagaimana perubahan itu terasa dari dalam, ketika seseorang justru merasa tertekan untuk terus menyesuaikan diri dengan arus yang sedang bergulir.

Rasa putus asa, menurutnya, sering kali bukan tanda bahwa perjuangan sudah gagal, tapi tanda bahwa seseorang sedang berada di tengah proses pengorganisasian ulang kekuasaan itu sendiri, dan sedang merasakan tekanannya dari dalam. Tugas orang-orang yang peduli pada perubahan, kata Inaya, bukan sekadar membayangkan dunia ideal, tapi menganalisis, mengorganisasi diri, dan bertindak dengan jernih, membaca masa kini bersama masa lalu, supaya tidak terus-menerus terkejut setiap kali ruang yang baru saja terbuka mendadak menyempit lagi.

---

Artikel ini disarikan dari presentasi Prof. Inaya Rakhmani, PhD (Universitas Indonesia) dalam MEDIACON 2026, International Conference bertajuk "Hope or Hype? Media Democratization and Resilience in Times of Crisis", yang diselenggarakan Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia bersama Petra Christian University pada 5–7 Agustus 2026.

Surat Redaksi

Menikmati pembacaan ini?

Dapatkan analisis mendalam dan ulasan budaya berikutnya langsung di kotak masuk Anda setiap Jumat sore.

Admin Redaksi

Ditulis oleh

Admin Redaksi

Kisar Wacana

Redaksi Kisar Wacana

Artikel Terkait