Menertawakan Nasib, Merayakan Kemanusiaan: Kelas Pekerja dalam Film "Agensi Rumah Tangga"
Film ini mengemas cerita PHK dan agensi asisten rumah tangga jadi komedi hangat, sekaligus mengangkat sisi manusiawi pekerja domestik.
INFORMASI FILM
Judul: Agensi Rumah Tangga
Sutradara: Naya Anindita
Adaptasi: Novel karya Almira Bastari
Pemeran: Enzy Storia, Afgansyah Reza, Unique Priscilla
Genre: Drama Komedi
Tanggal Rilis: 10 September 2026
Film Indonesia sering menampilkan dua hal, romansa kalangan atas atau cerita horor. Agensi Rumah Tangga mengambil jalan lain. Lewat arahan sutradara Naya Anindita, adaptasi novel karya Almira Bastari ini memilih bicara langsung soal kesulitan hidup kelas pekerja di ibu kota. Film ini kini tayang di bioskop. Ceritanya dibuka dengan komedi ringan tentang kepanikan finansial, lalu perlahan mengajak penonton merenungkan soal kemanusiaan dan solidaritas di sektor pekerja domestik.
Jebakan Kelas Menengah dan Syarat Sukses yang Kaku
Bagian awal film menggambarkan kehidupan urban yang terasa akrab. Katia Amaranto, diperankan Enzy Storia, adalah pekerja kantoran yang merasa hidupnya sudah aman, sampai ia terkena PHK. Rasa amannya runtuh seketika. Ia harus menghadapi cicilan rumah yang tetap berjalan, ditambah tekanan dari ibunya (diperankan Unique Priscilla) yang terus mendesaknya ikut ujian CPNS.
Di bagian ini, film menyentil kebiasaan masyarakat kita yang sering menganggap status pegawai negeri sebagai satu-satunya ukuran sukses. Karena panik ingin menyelamatkan rumah sekaligus harga dirinya, Katia mengambil keputusan nekat dengan membuka agensi penyalur asisten rumah tangga di rumah baru yang ia beli dari hasil kerja kerasnya. Keputusan yang awalnya terasa asal-asalan ini justru jadi sumber komedi, terutama lewat kecanggungan Katia yang sama sekali tidak paham cara mengelola pekerja.
Sisi Manusiawi Pekerja Domestik
Kekuatan utama film ini justru muncul saat cerita bergeser ke kehidupan para calon asisten rumah tangga yang disalurkan Katia. Naya Anindita tidak menjadikan kemiskinan mereka sebagai bahan lucu-lucuan atau sekadar pelengkap cerita. Karakter-karakter ini diberi ruang untuk tampil sebagai manusia yang utuh. Rumah Katia berubah jadi tempat bertemunya berbagai latar belakang dan kepribadian.
Para pekerja domestik di film ini tidak ditampilkan sebagai korban yang pasrah. Mereka punya mimpi, keluhan, dan selera humor sendiri. Interaksi antara Katia, para pekerja yang ia tampung, dan karakter yang diperankan Afgansyah Reza, pelan-pelan meruntuhkan jarak status sosial di antara mereka.
Satu Adegan yang Mengingatkan Realitas
Meski secara umum hangat dan ringan, film ini tidak menutup mata dari sisi gelap pekerjaan di sektor informal. Tanpa membocorkan jalan cerita, ada satu adegan yang menyinggung soal kekerasan dan kerentanan yang bisa dialami asisten rumah tangga di tempat kerja.
Porsi adegan ini tidak besar, dan film tidak berubah jadi kelam karenanya. Tapi adegan itu cukup untuk mengingatkan, baik Katia maupun penonton, bahwa di balik komedi dan kehangatan yang dibangun sepanjang film, ada risiko nyata yang dihadapi para pekerja tanpa jaminan perlindungan dan penegakkan hukum yang memadai. Porsinya pas, sehingga kritik sosialnya tersampaikan tanpa mengorbankan sisi komedi film.
Penutup
Agensi Rumah Tangga adalah tontonan yang cukup menghibur sekaligus memberi ruang untuk berpikir. Film ini memadukan kritik sosial, komedi situasi, dan kehangatan cerita dengan cukup seimbang. Naya Anindita menunjukkan bahwa cerita tentang kesulitan hidup dan pekerja informal tidak harus disampaikan dengan nada muram. Ada banyak cara untuk memandang persoalan ini, dan film ini menawarkan satu di antaranya, yakni menertawakan nasib bersama, sambil tetap mengingat bahwa di baliknya ada persoalan yang belum selesai.
Menikmati pembacaan ini?
Dapatkan analisis mendalam dan ulasan budaya berikutnya langsung di kotak masuk Anda setiap Jumat sore.
Ditulis oleh
Admin Redaksi
Kisar Wacana
Redaksi Kisar Wacana